Lanjut ke konten

“JIKALAU BUKAN TUHAN YANG MEMBANGUN RUMAH”

19 April 2010
Jikalau bukan TUHAN yang membangun rumah, sia-sialah usaha orang yang membangunnya… – Mazmur 127:1

Selama lebih dari lima puluh tahun dalam pelayanan, Mazmur 127:1 telah menjadi ayat utama yang saya pakai sebagai dasar hidup saya. Sebelum melakukan sesuatu, saya selalu memastikan bahwa Tuhan menghendaki saya untuk melakukan hal itu.

Perhatikan ayat tersebut; mereka membangun rumah. Mereka membangunnya, tetapi semua usaha mereka sia-sia karena Tuhan tidak menghendakinya. Sering kali di dalam pelayanan, apa yang kita kerjakan memang baik, tetapi itu bukan rencana Tuhan. Itu cuma rencana manusia.

Mazmur 127:1 tidak hanya berbicara tentang membangun rumah. Memang, secara alamiah jika Allah tidak menyertai Saudara dalam melakukan sesuatu, maka Saudara akan menemui kegagalan. Tetapi apa yang dikatakan Alkitab di sini juga termasuk hal rohani.

Jika Saudara sedang mengerjakan sesuatu, tanyakan pada diri Saudara sendiri, apakah ini rencana Allah? Ingat, jika bukan Tuhan yang membangun rumah, maka semua usaha Saudara sia-sia. Saudara dapat membuat sebuah rumah tetapi tidak sesuai dengan rencana Allah. Ayat ini menunjukkan bahwa mereka harus berusaha membangunnya sebab Allah tidak menyertainya. Libatkan Allah dalam apa saja yang Saudara kerjakan. Cari kehendakNya sebelum Saudara mulai membangun, sebelum Saudara mulai mengerjakan suatu proyek.

Sangat mudah untuk keluar dari rencana Allah. Para pelayan Tuhan, khususnya, sangat mudah untuk keluar dari rencana Allah dengan melakukan sesuatu yang nampaknya baik, bagus, dan tidak melanggar hukum. Tetapi jika Allah tidak menyuruh mereka untuk melakukannya, dan memang bukan rencanaNya bagi mereka, mereka akan melaksanakan rencana yang salah. Ketika hal ini terjadi, mereka tidak bisa mengalami berkat Allah secara penuh.

Sebagai contoh, pada tanggal 1 Oktober 1979 kami memulai Sekolah Kesembuhan Ilahi di kampus RHEMA sesuai dengan petunjuk Tuhan. Selama bertahun-tahun, kami menerima banyak kesaksian yang mengherankan dari orang-orang yang disembuhkan.

Biasanya, kami memulai pelajaran kesembuhan ilahi ini dengan puji-pujian yang dipimpin oleh seorang pemimpin pujian. Sering kali, kami menghabiskan waktu sampai 45 menit dalam pujian dan penyembahan kepada Tuhan.

Suatu hari pada waktu saya sedang berjalan menuju Sekolah Kesembuhan Ilahi ini, Tuhan berbicara kepada saya. SuaraNya begitu jelas sehingga seolah-olah memang ada seseorang yang sedang berjalan di samping saya. Tuhan berkata, “Apa tujuan kebaktian ini?”

Saya menjawab, “Ini adalah kebaktian kesembuhan ilahi.”

“Kebaktian kesembuhan ilahi macam apa?”

“Ya…., kami mengajar jemaat yang perlu disembuhkan tentang bagaimana menerima kesembuhan dan kami mengajar orang lain untuk melayani orang sakit. Itu tujuannya.”

“Kalau begitu,” Tuhan berkata kepada saya, “ini bukan kebaktian penyembahan.”

“Ya, betul,” saya berkata, “ini bukan kebaktian penyembahan.”

“Jadi, jangan mengubahnya menjadi kebaktian penyembahan. Nyanyikan saja beberapa lagu, sekedar untuk menyiapkan jemaat, dan langsung mulai dengan pengajaranmu.”

Sebab itu kami mengubah kebiasaan kami dalam mengelola Sekolah Kesembuhan Ilahi ini. Kami kembali ke rencana Allah. Kami menyanyi dan memuji Tuhan selama kurang lebih lima belas menit dan kemudian langsung ke materi pelajaran.

Tidak hanya dalam bidang penyembahan kami salah dalam mengelola Sekolah Kesembuhan Ilahi ini. Tanpa sadar, kami mengubahnya menjadi tempat konsultasi masalah. Pada mulanya, kami membangun gedung yang disebut dengan “Pusat Doa dan Kesembuhan Ilahi”, tetapi kami mengubahnya menjadi ruang konsultasi. Banyak orang datang dan juga permohonan lewat telepon untuk segala macam konsultasi – pernikahan, keuangan, kerohanian, dan lain-lain.

Setelah beberapa saat, kami dapat merasakan ada sesuatu yang kurang beres. Sepertinya kami sedang “mencuci kaki kami tanpa melepaskan kaos kaki”.

Jadi kami berdoa. Isteri saya dan saya berdoa dengan pemimpin Pusat Doa dan Kesembuhan Ilahi. Kami meminta orang-orang yang datang secara teratur untuk berdoa di RHEMA juga membantu kami dalam mendoakan hal ini.

Suatu malam dalam pertemuan doa tersebut, pada saat saya berlutut di samping kursi di atas panggung, Tuhan berbicara kepada saya.

Ia berkata, “Engkau mengkotbahkan Yakobus 5:14,15 selama bertahun-tahun. Apakah pernah kau perhatikan bahwa yang tertulis di situ adalah doa dan kesembuhan bukan doa, konsultasi, dan kesembuhan?”

Memang benar kami mengajar jemaat tentang Firman Tuhan. Itulah pelajaran yang kami ajarkan setiap hari tentang kesembuhan ilahi. Tetapi Tuhan berkata kepada saya, “Coba pergi ke luar untuk melihat tulisan yang ada pada bangunan ini. Bunyinya adalah ‘Pusat Doa dan Kesembuhan Ilahi’ – bukan Doa, Konsultasi, dan Kesembuhan. Aku sama sekali tidak menyuruhmu untuk memberikan konsultasi. Kau yang menambahnya.”

Kemudian Ia berkata kepada saya, “Jangan lagi memberikan konsultasi kepada seorangpun kecuali mereka yang memang adalah jemaatmu. Kau boleh memberikan bimbingan, konsultasi kepada karyawanmu dan para siswa yang ada di sekolah ini karena mereka adalah jemaatmu. Tetapi jangan membimbing orang lain. Jika mereka membutuhkan konsultasi, mereka harus dilayani di dalam gereja mereka sendiri, di dalam jemaat mereka sendiri. Jika mereka tidak mempunyai tempat berjemaat, itulah masalah utama mereka.”

Puji Tuhan untuk para guru. Puji Tuhan untuk para penginjil. Puji Tuhan untuk para rasul dan para nabi. Tetapi kita tetap membutuhkan jabatan gembala. Para gembala tinggal bersama domba mereka.

Pada saat saya melayani di berbagai tempat, saya selalu mendorong semua orang: “Berikan perpuluhanmu kepada gereja lokalmu. Alkitab mengajarkan tentang perpuluhan dan persembahan khusus. Saudara dapat memberikan saya persembahan khusus jika mau, tetapi tetap pelihara gerejamu sendiri.”

Saudara membutuhkan gembala. Berbagai macam krisis kehidupan datang kepada kita semua. Mungkin ada saatnya Saudara atau orang yang Saudara kenal berada di rumah sakit. Saudara dapat menghubungi kantor kami dan kami akan berdoa sebab Alkitab mengajar untuk berdoa. Tetapi, saya tidak akan datang ke rumah sakit tersebut. Saya tidak bisa datang, tetapi pendeta Saudara akan datang. (Saudara mungkin tidak terlibat atau mendukung gereja lokal Saudara. Bahkan, jika gereja lokal tersebut tergantung pada Saudara, gereja tersebut sudah lama mati dan bangkrut.) Jika Saudara menghubungi pendeta Saudara, ia akan datang untuk mengurapi Saudara dengan minyak dan berdoa, dan tetap mendampingi Saudara pada saat itu.

Beberapa dari kerabat Saudara mungkin meninggal (Allah tidak berkata bahwa kita akan hidup selamanya) dan Saudara mungkin membutuhkan orang untuk mendampingi Saudara. Jangan panggil saya karena saya tidak dapat datang. Atau mungkin seseorang di keluarga Saudara akan menikah. Jangan panggil saya atau pengkotbah televisi atau pengkotbah radio karena kami tidak bisa datang untuk melayani pernikahan tersebut.

Pendeta gereja lokal berurusan dengan hal-hal tersebut. Inilah rencana Allah bagi gereja lokal. Tetapi kalau soal Pusat Doa dan Kesembuhan Ilahi, Allah punya rencana khusus, dan kami harus mengikuti rencana Allah bagi kami. Dalam hal ini, kami juga harus mengikuti rencana Allah dengan tidak melanjutkan lagi pelayanan konsultasi.

Bidang lain dimana saya juga keluar dari rencana Allah adalah dalam hal bentuk kebaktian tenda kami yang diadakan setiap tahun.

Beberapa tahun yang lalu, saya mulai mengadakan kebaktian di Tulsa, di Sheridan Assembly Christian Center. Gedung tersebut tidak bisa memuatlebih dari 800 orang, dan biasanya jemaat yang selalu hadir berjumlah sekitar 400 orang. Pada malam hari, orang-orang di sekitar akan datang dan memenuhi gedung. Biasanya saya mengadakan kebaktian kebangunan rohani di dalam gereja tersebut – saya cuma memakai gedung untuk mengadakan kebaktian yang saya pimpin.

Suatu malam saya mengejutkan diri saya sendiri (saya terkejut karena saya terus-menerus mengatakan sesuatu dari roh saya). Saya berkata, “Pada musim semi ini, kita akan mengadakan seminar iman dan kebaktian tenda dalam ruang tertutup. Allah berkata bahwa kita akan memulainya.” Setelah berkata demikian, saya menoleh ke sekeliling dan berkata, “Siapa yang mengatakan hal itu?” dan kemudian menyadari bahwa perkataan itu keluar dari mulut saya sendiri! Ternyata saya berbicara karena inspirasi; saya tidak pernah memikirkannya sebelumnya. Perkataan itu keluar begitu saja dari roh saya.

Kadang-kadang saya mengatakan sesuatu karena dorongan Roh Allah, dan kemudian isteri saya atau Ken (anak laki-laki saya) atau Lynette (anak perempuan saya) akan mengatakan kepada saya apa yang telah saya katakan. Saya lalu berkata, “Saya tidak mengatakan itu – saya tahu pasti.” “Ah, memang kau telah mengatakannya!” mereka menjawab. Ketika saya memutar ulang kaset rekaman, ternyata memang benar bahwa saya mengatakan hal tersebut.

Yang ingin saya ceritakan di sini adalah bahwa Tuhan yang memberikan kami rencanaNya dan tujuanNya untuk melaksanakan Kebaktian Tenda sehingga kami mulai membuat seminar iman dan kebaktian tenda dalam ruang tertutup. Kemudian tiga tahun yang lalu, Tuhan berbicara kembali kepada saya tentang Kebaktian Tenda, karena tanpa sadar kami telah menyimpang dari rencanaNya dan tujuanNya.

Suatu saat saya sedang berdoa sekitar jam tiga pagi, dan Tuhan berbicara kepada saya, “Pada saat Aku menyuruhmu memulai seminar iman dan kebaktian tenda dalam ruang tertutup, dengan jelas Aku mengatakan bahwa kebaktian pagi adalah seminar iman, kebaktian sore adalah kebaktian sebagaimana dipimpin Roh Kudus, dan kebaktian malam adalah Kebaktian Tenda.”

Itulah rencana Allah. Tetapi kemudian, dengan beberapa cara, tanpa sadar kami telah menukarnya dengan rencana kami sendiri, dan kemudian berbagai pengajar datang dan mengajar topik apa saja yang mereka sukai.

Orang-orang muda biasanya tidak mengerti tentang Kebaktian Tenda. Beberapa orang dari Pentakosta kuno mengerti hal ini. Mereka akan datang dari mana-mana dan berkemah di tempat terbuka. Mereka akan datang dengan kereta kuda mereka, membawa makanan dan juga jerami untuk kuda mereka. Mereka tinggal di tenda-tenda sampai kebaktian tenda tersebut berakhir. Di zaman modern ini, kita selalu dalam keadaan terburu-buru sehingga kita datang ke kebaktian gereja dan baru duduk 30 menit kemudian sudah ingin pulang! Itu bukan kebaktian tenda!

Kebaktian Tenda adalah waktu di mana kami semua datang bersama-sama untuk menikmati hal-hal dari Allah dan santai di Hadirat Allah. Kami datang dari jarak yang jauh, meninggalkan pekerjaan dan kegiatan kami sehari-hari, dan kemudian membiarkan Roh Kudus mengerjakan apa yang ingin dikerjakanNya.

Setelah Tuhan berbicara kepada saya tentang Kebaktian Tenda, kami segera melaksanakan rencanaNya. Kami kembali ke rencanaNya – bukan rencana saya atau rencana siapapun.

Seorang pendeta suatu ketika berkata kepada saya, “Tidak terhitung berapa banyak uang yang sudah saya gunakan untuk naik pesawat dan terbang melintasi negeri ini untuk membangun gereja saya. Saya selalu mau belajar dari seorang pendeta yang sudah sukses. Saya akan pergi ke sana, belajar bagaimana ia melakukan hal itu, dan kemudian kembali dan melakukan rencana
tersebut di gereja saya sendiri. Bukannya berhasil, saya justru gagal.

Pendeta yang lain mencoba melakukan rencana tersebut dan jemaatnya menjadi tiga kali lipat. Saya mencobanya dan kehilangan 20% dari jemaat saya. Sejak saat itu, saya terbang ke seluruh bagian negeri ini ke gereja lain dan tinggal selama seminggu, mengamati, dan membuat catatan. Saya kembali ke gereja saya dan menerapkan rencana tersebut. Lalu saya kehilangan lebih
banyak lagi jemaat saya.”

Saat saya berbicara kepada pendeta itu, jemaatnya tinggal 1/3 dari jumlah semula. “Apa yang harus saya lakukan?” ia bertanya kepada saya. Ia ingin saya memberi saran.

Saya berkata, “Saya tidak tahu apa yang Allah rencanakan bagimu. Menyendirilah bersama Tuhan dan temukanlah sendiri.”

Ia berkata, “Saya tidak punya waktu – saya sangat sibuk melaksanakan tugas saya sebagai pendeta.”

Saudara-saudara yang saya kasihi, jika Saudara terlalu sibuk untuk menantikan Allah, untuk menemukan rencanaNya, Saudara bisa melalui seluruh hidup Saudara dan setiap hal yang Saudara kerjakan akan selalu gagal. Lalu, apa yang akan Saudara katakan kepada Allah pada saat Saudara berdiri di hadapanNya dalam kekekalan? Ia tidak akan bertanya tentang hal-hal yang Saudara kerjakan menurut ide dan rencana Saudara. Ia akan bertanya tentang apa yang Saudara kerjakan terhadap rencanaNya bagi hidup Saudara.

Terjemahan dari PLANS, PURPOSES, AND PURSUITS by Kenneth E. Hagin (Bab 3 – Except The Lord Build The House), jcb, 09031994

About these ads
No comments yet

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.

%d bloggers like this: